Banjarmasin, 18 September 2024 – Hari terakhir kegiatan TOT bagi guru untuk penyandang disabilitas menjadi momen penuh harapan dan kebanggaan di mana sebanyak 39 peserta telah menyelesaikan pelatihan yang diselenggarakan selama dua hari. Pelatihan ini merupakan inisiatif kolaboratif antara BAZNAS, Kementerian Agama RI bagian Lajnah Tashih Alquran, dan BAZNAS Kalimantan Selatan.

Pada hari terakhir, peserta diberikan kesempatan untuk mempraktikkan metode pembelajaran Alquran dengan isyarat, yang langsung dipandu oleh para mentor. Mereka berlatih dengan penuh semangat, didorong oleh keyakinan bahwa ilmu ini akan membuka jalan baru bagi teman-teman tuli untuk lebih mendalami Alquran. Setiap isyarat yang dipelajari tidak hanya memperkuat kemampuan para guru, tetapi juga memperluas akses pendidikan spiritual bagi mereka yang selama ini kurang terlayani.
Kegiatan ini ditutup dengan sambutan dari H. Deni Hudeny, perwakilan Kementerian Agama RI sekaligus salah satu mentor. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada BAZNAS RI dan BAZNAS Kalsel yang telah memfasilitasi pelatihan ini. “Kita harus selalu memberikan akses dan dukungan kepada teman-teman tuli, agar mereka bisa berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya penuh harapan.

Fakhie Hanief, salah satu peserta, mengungkapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak penyelenggara pada pelatihan ini. “Pelatihan ini telah menjawab apa yg selama ini menjadi kendala di lembaga kami dalam mengajarkan Quran kepada penyandang disabilitas sensorik rungu wicara” ujar ustadz yang juga memiliki Manajemen Pendidikan Quran Metode Tartily Banjary.
Ia juga akan mengembangkan metode ini kepada tenaga pengajar lainnya dan berharap dukungan berbagai pihak agar para penyandang disabilitas mendapatkan hak yang sama dalam belajar Quran.

Noor Huda Fikri, Kabag Pendistribusian BAZNAS Kalsel, menutup acara dengan harapan besar agar ilmu yang didapatkan selama pelatihan ini bisa bermanfaat dan disebarkan lebih luas. “Semoga kedepannya, BAZNAS Kalsel bisa terus berkolaborasi dalam kegiatan serupa, merangkul teman-teman istimewa kita untuk berkembang lebih baik,” pungkasnya.
Pelatihan ini bukan sekadar proses belajar mengajar, tetapi juga sebuah langkah besar dalam inklusivitas pendidikan, membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk terus maju bersama. Harapan besar membentang di depan, bahwa dengan dukungan yang berkelanjutan, akses terhadap ilmu pengetahuan dan agama akan semakin terbuka lebar untuk semua. (eho)