{"id":5487,"date":"2025-07-13T20:43:42","date_gmt":"2025-07-13T12:43:42","guid":{"rendered":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/?p=5487"},"modified":"2025-07-13T20:43:42","modified_gmt":"2025-07-13T12:43:42","slug":"antara-ilmu-adab-dan-husnuzon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/antara-ilmu-adab-dan-husnuzon\/","title":{"rendered":"Antara Ilmu, Adab, dan Husnuzon"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh Muhammad Adi Riswan Al Mubarak<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menghadiri pengajian, mengikuti kajian online, membaca buku agama semua itu tentu kebaikan yang besar. Tapi ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan, apakah semua itu sudah membentuk adab dalam diri kita?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada kalanya seseorang -bahkan kita sendiri- rajin menuntut ilmu, tapi belum bisa menahan lisannya. Kalimat-kalimatnya masih tidak bersahabat di telinga orang, mudah merendahkan orang lain, atau bicara tanpa pertimbangan. Padahal ilmu itu seharusnya melembutkan hati, bukan justru membuat kita merasa lebih tinggi dari yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sikap seperti ini sering kali lahir karena hati kurang dilatih untuk husnuzon, yaitu berbaik sangka. Kita terlalu cepat menilai, terlalu mudah menyimpulkan, dan terlalu ringan menyebut kekurangan orang lain. Padahal kita tak pernah benar-benar tahu keadaan mereka yang sesungguhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang yang berilmu semestinya tumbuh menjadi orang yang tenang, bukan hanya karena tahu banyak dalil, tapi karena ia paham betapa lemahnya manusia. Maka ia akan berusaha menahan lisan, menghindari prasangka, dan lebih banyak mendoakan ketimbang mengomentari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasulullah \ufdfa tidak hanya diutus untuk menyampaikan wahyu, tapi juga untuk menyempurnakan akhlak. Dan salah satu akhlak terbesar adalah husnuzon, baik sangka kepada sesama, dan kepada Allah. Sebab, orang yang terbiasa husnuzon akan lebih mudah menjaga lisan. Ia tak merasa perlu membicarakan orang lain, karena ia tahu, belum tentu dirinya lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adab itu bagian dari ilmu. Bahkan sebagian ulama dulu belajar adab bertahun-tahun sebelum mereka mempelajari kitab-kitab besar. Karena tanpa adab dan husnuzon, ilmu bisa berubah menjadi senjata yang menyakiti, bukan menyelamatkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, seberapa pun seringnya kita menghadiri pengajian, jangan lupa bertanya pada diri sendiri.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah ilmu itu membuatku lebih lembut hatinya? Apakah lisanku semakin terjaga? Apakah aku belajar berbaik sangka dan bersabar terhadap sesama?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ilmu yang benar akan memperhalus lisan dan memperluas dada. Dan orang yang benar-benar belajar akan makin sadar bahwa menjaga husnuzon itu bagian dari ibadah hati yang tak kalah penting dari ibadah lisan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga ilmu yang kita cari membawa kita pada kerendahan hati, bukan pada perasaan lebih tinggi. Dan semoga lisan kita menjadi saksi kebaikan, bukan penyebab luka bagi orang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wallahu a\u2019lam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">*Kepala Bagian Promosi dan Komunikasi Publik BAZNAS Kalsel<\/span><\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Muhammad Adi Riswan Al Mubarak Menghadiri pengajian, mengikuti kajian online, membaca&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5489,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_robots_primary_cat":"none","_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","footnotes":""},"categories":[22],"tags":[],"class_list":["post-5487","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5487","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5487"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5487\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5490,"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5487\/revisions\/5490"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5489"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5487"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5487"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/baznaskalsel.org\/berita\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5487"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}