Banjarmasin — Membangun kemandirian ekonomi tidak harus dilakukan sendirian. Semangat itulah yang ditekankan Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Kalimantan Selatan (BAZNAS Kalsel) saat mempertemukan para pelaku UMKM binaannya dalam agenda pendampingan kelompok di kawasan Jl. Kampung Melayu Banjarmasin, Jumat (23/1/2026). Di sini, delapan pelaku usaha mikro tidak hanya diajarkan strategi pemasaran, tetapi juga diajak untuk saling memberikan solusi demi kemajuan bersama.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi para pelaku usaha untuk membedah kendala yang dihadapi selama menjalankan bisnis. Tim BAZNAS Kalsel secara khusus membekali peserta dengan materi promosi produk agar UMKM di tingkat akar rumput mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Salah satu bukti nyata efektivitas diskusi kelompok ini muncul ketika seorang pelaku usaha lumpia mendapatkan saran dari rekan sesama peserta untuk beralih ke konsep frozen food agar produknya bisa menjangkau pelanggan yang lebih jauh. Hal inilah yang menjadi esensi utama dari pendampingan ini.

Zumrotun Nisa, perwakilan dari BAZNAS Kalsel, menjelaskan bahwa tujuan jangka panjang dari pertemuan ini adalah terciptanya persatuan di antara UMKM binaan.
“Kami ingin para pelaku UMKM ini tidak merasa berjuang sendiri. Seperti saran untuk membuat lumpia beku tadi, itu adalah bentuk kepedulian antar-teman. Kami ingin mereka bersatu, saling berbagi ilmu, dan tumbuh bersama,” tegas Nisa.
Manfaat serupa dirasakan oleh Ibu Misnah, pengusaha kue kering yang turut hadir. Ia menilai pola pendampingan berkelompok ini jauh lebih efektif karena mampu membuka wawasan tentang kekurangan dan kelebihan produknya melalui sudut pandang orang lain.

“Pendampingan ini sangat bagus sekali. Kita jadi tahu di mana kekurangan kita dan apa kelebihan teman yang bisa kita pelajari. Selain itu, kami mendapatkan banyak relasi baru dari sesama UMKM yang sangat membantu pengembangan usaha,” ujar Misnah.
Melalui pendampingan di Kampung Melayu ini, BAZNAS Kalsel membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi bukan hanya soal penyaluran bantuan, melainkan tentang membangun komunitas yang tangguh dan saling menopang demi mewujudkan transformasi mustahik menjadi muzaki. (ars)

