Guru Busu Prihatin Nasib Guru Ngaji dan Ajak Santuni Keturunan Nabi

Oleh Muhammad Adi Riswan Al Mubarak*

Banjarmasin(13/02/2024) – Ini kali kedua saya ngajak pimpinan BAZNAS Kalsel silaturrahmi dengan salah satu ulama di Banjarmasin yang menurut saya mempunyai jamaah banyak. Seorang ulama yang disetiap kajiannya menggunakan tutur kata lembut, bersahaja dan juga berwibawa ini familiar dengan panggilan Guru Busu atau nama lengkapnya Guru H. Qamaruddin. “Oh mantap sidin tu, sejuk tu pang” ujar amang usuf, pemilik bengkel sepeda langganan saya tidak jauh dari kediaman ulama ini di Jl. Kelayan B Gang Bahagia Banjarmasin ketika suatu waktu saya mampir ke bengekelnya.

Biasanya Guru Busu membuka pintu silaturahmi untuk umum usai pengajian di majelis Darul Maddah yang diasuhnya setiap hari Selasa. Pengajian yang jamaahnya wanita tersebut berakhir sekitar pukul 10.30 sampai pukul 11.00 an. Pada kesempatan ini kami berangkat rombongan, selain seluruh pimpinan BAZNAS Kalsel juga turut Kepala Bagian dan Kepala Bidang di lingkup BAZNAS Kalsel. Tujuan utama silaturahmi adalah mohon petuah dan doa kepada sang guru agar semoga dilancarkan dalam menjalankan aktivitas pengelolaan zakat di BAZNAS Kalimantan Selatan.

Guru Busu menyampaikan harapannya ke BAZNAS Kalsel sebagai usulan agar para pendakwah yang mengajak kepada ketauhidan, keimanan dan ketakwaan menjadi perhatian oleh BAZNAS. Ia mengutip ayat 96 pada Surah Al ‘Araf yang artinya “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”

Guru Busu menerangkan bahwa ayat ini menunjukkan yang menjadikan penduduk itu beriman dan bertakwa ada peran orang lain yang mengajarnya, yaitu para dai, guru ngaji, salah satunya adalah guru-guru TK Alquran. Guru-guru ngaji inilah yang menurut Guru Busu harus diperhatikan kesejahteraannya karena merekalah yang mengajarkan kepada masyarakat agar beriman dan bertaqwa yang akan berbuah kelimpahan keberkahan dari Allah yang diturunkan dari langit dan dikeluarkan dari bumi. Kendati BAZNAS Kalsel sendiri mempunyai program Peduli Mualaf dengan memberikan fasilitas sepeda motor trail dan sokongan dana terhadap dai dan guru-guru yang berdakwah di pedalaman meratus. Namun pesan Guru Busu ini perlu digaris bawahi oleh pengelola zakat terkhusus BAZNAS Kalsel.

Guru Busu juga mengutip salah satu perkataan Guru Sekumpul tentang bagaimana negara tetangga kita seperti Brunei Darussalam mempunyai penduduk dengan kehidupan yang sejahtera damai dan tenteram, itu dikarenakan negaranya memperhatikan kehidupan para guru-guru, para ulama dan dai yang mengajarkan ilmu-ilmu penuh keikhlasan.

Guru Busu mengajak kita agar mawas terhadap guru-guru yang berperan penting dalam pendidikan masyarakat termasuk juga kepada para zuriat keturunan Nabi Muhammad  SAW yang tidak berada dalam kecukupan. “Seperti para syarifah yang ditinggal oleh suaminya” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa zaman dulu para keluarga Nabi dijamin kehidupannya dengan adanya baitul maal yang dikelola oleh Nabi dan sahabat sehingga tidak dibolehkan Nabi untuk menerima zakat. Namun beda dengan zaman sekarang, di mana keluarga Nabi diperbolehkan untuk menerima zakat. 

Sebuah pemikiran yang tidak saya duga sebelumnya namun patut kita renungkan. Boleh jadi ada keturunan Nabi yang masih berada dibawah garis kemiskinan dan ketidakmampuan yang luput jadi perhatian kita. Kalau tidak zakat, dana infak dan sedekah pun sangat layak diberikan kepada mereka. Sudah menjadi kewajiban kitalah untuk menyenangkan Nabi dengan memuliakan dan menyantuni keluarganya. Semoga bermanfaat.

*Kepala Bagian Promosi dan Komunikasi Publik BAZNAS Kalsel