Barito Kuala, 14 Juli 2024 – Di antara hamparan sawah yang membentang di Desa Anjir Pasar Kota II, Kecamatan Anjir Pasar, Kabupaten Barito Kuala, cerita tentang ketahanan pangan sedang ditulis oleh tangan-tangan petani lokal. Salah satunya adalah Sigiannor, seorang petani sederhana yang kini menjadi bukti nyata bahwa pertanian bisa menjadi jalan kemandirian ketika diberdayakan dengan baik.
Sigiannor adalah petani binaan Badan Amil Zakat Nasional Provinsi Kalimantan Selatan (BAZNAS Kalsel). Melalui program Lumbung Pangan Padi Kalimantan Selatan, ia menerima pendampingan intensif mulai dari penyediaan benih, pelatihan teknik budidaya, hingga penguatan sistem tanam yang lebih efisien dan adaptif terhadap kondisi lahan pasang surut. Semua proses itu berbuah manis. Dalam musim panen tahun ini, ia berhasil mencatatkan hasil panen sebesar 5,50 ton per hektar untuk varietas padi lokal Siam Runtai.

Panen ini bukan hanya angka di atas kertas. Hasil tersebut didapatkan melalui proses ubinan di lahan milik Sigiannor yang berlokasi di Blok B (Handil Seluang). Dengan metode standar, tim penyuluh dan pendamping program dari BAZNAS melakukan pengukuran di petak ubinan seluas 2,5 x 2,5 meter. Berat hasil panen dari petak itu mencapai 3,44 kg, yang jika dikonversikan menjadi 5,50 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar angka yang sangat menggembirakan bagi petani di lahan pasang surut.
“Alhamdulillah, hasil panennya cukup baik. Kami sangat bersyukur atas pendampingan dari BAZNAS Kalsel. Mulai dari benih sampai pelatihan, semuanya sangat membantu,” ujar Sigiannor dengan senyum puas, memandangi petak sawahnya yang baru saja dipanen.
Siam Runtai sendiri bukan varietas baru. Ini adalah jenis padi lokal yang telah lama dibudidayakan oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Keunggulannya terletak pada daya adaptasinya yang tinggi di lahan-lahan pasang surut serta hasil panen yang stabil. Tak heran jika varietas ini kini menjadi tulang punggung dalam program kemandirian pangan lokal yang diusung oleh BAZNAS Kalsel.

Pendamping lapangan program BAZNAS, Fazerina Indriani, menegaskan bahwa data ubinan seperti ini bukan sekadar catatan teknis. Di balik angka-angka tersebut, ada kerja keras petani, ada ilmu yang ditanamkan, dan ada semangat perubahan yang tumbuh.
“Ubinan ini bukan hanya alat ukur produktivitas, tapi juga menjadi tolok ukur keberhasilan sinergi antara petani dan lembaga pemberdaya. Hasilnya membuktikan bahwa jika diberi pendampingan yang tepat, petani lokal bisa naik kelas dan mandiri,” jelas Fazerina.
BAZNAS Kalsel melalui program pemberdayaannya salah satunya lumbung pangan ini membuktikan bahwa zakat dan dana sosial bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi bisa menjadi investasi jangka panjang untuk kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. (eho/arm)