Banjarmasin – Di tengah gempuran kenaikan harga bahan pokok dan ketatnya persaingan warung makan di kawasan Kelayan, Ibu Fitriah tetap menunjukkan komitmennya sebagai pelaku usaha binaan BAZNAS Kalsel yang tangguh. Meski harga plastik melonjak drastis, strategi manajemen porsi yang cerdas dan konsistensi rasa membuat warung makan ini tetap menjadi pilihan utama warga, dengan omzet bulanan kini melampaui angka Rp6 juta, Kamis (09/04/2026).
Monitoring yang dilakukan tim BAZNAS Kalsel di lokasi usahanya di Jalan Kelayan A, Banjarmasin Selatan, menunjukkan tren positif. Setelah melewati masa Ramadan dengan banjir orderan nasi kotak untuk iftar, kini Ibu Fitriah mampu mempertahankan ritme produksinya. Setiap hari, ia bersama suaminya mengolah rata-rata 7 liter beras untuk nasi samin, nasi kuning, dan nasi putih, bahkan mencapai 10 liter pada hari-hari tertentu.
Dari omzet diatas 6 juta per bulan tersebut, Ibu Fitriah telah mampu mengelola keuangannya secara mandiri untuk biaya sewa tempat, modal produksi, hingga kebutuhan rumah tangga. Ia bahkan secara disiplin menyisihkan laba untuk ditabung setiap harinya.
Meski secara pendapatan meningkat, Ibu Fitriah tidak menutup mata terhadap tantangan pasar. Ia mengisahkan bagaimana biaya operasional, khususnya perlengkapan seperti plastik, melonjak dari Rp. 38.000 menjadi Rp. 58.000.

“Sedihnya saya tidak bisa menaikkan harga jual karena daya saing di sini cukup kuat. Jadi strategi yang saya lakukan hanya sedikit mengurangi porsi nasi agar tetap terjangkau oleh pelanggan,” ungkap Ibu Fitriah.
Menanggapi keberhasilan tersebut, Wakil Ketua II BAZNAS Kalsel, H. Muslim, memberikan apresiasi tinggi terhadap etos kerja Ibu Fitriah. Menurutnya, Ibu Fitriah adalah contoh nyata bagaimana bantuan produktif dapat mengubah pola pikir mustahik menjadi lebih mandiri.
“Kami sangat bangga melihat perkembangan usaha Ibu Fitriah. Kunci dari program pemberdayaan ekonomi BAZNAS bukan hanya pada pemberian modal di awal, tetapi pada keberlanjutan dan kedisiplinan mustahik dalam mengelola keuangan. Apa yang dilakukan Ibu Fitriah dengan menabung harian adalah langkah cerdas untuk menghadapi fluktuasi harga pasar,” ujar H. Muslim.

Beliau juga menambahkan bahwa BAZNAS Kalsel akan terus berkomitmen melakukan pendampingan agar para pelaku usaha mikro memiliki daya tahan yang kuat.
“Harapan kami, Ibu Fitriah tidak hanya sukses secara finansial, tetapi ke depannya bisa naik kelas dari mustahik menjadi muzakki (pemberi zakat), sehingga bisa membantu lebih banyak orang lagi di Kalimantan Selatan,” pungkasnya.
Bantuan modal dari BAZNAS Kalsel bukan sekadar pemberian sekali habis, melainkan menjadi pemicu kemandirian. Monitoring rutin ini dilakukan untuk memastikan para mustahik tetap memiliki daya tahan di tengah dinamika ekonomi yang fluktuatif.
Dengan adanya tabungan harian dan manajemen modal yang baik, BAZNAS Kalsel berharap Ibu Fitriah dapat terus mengembangkan usahanya dan menjadi inspirasi bagi pelaku usaha mikro lainnya di Kalimantan Selatan. (ars)